Sabtu, 29 April 2017

Apa Saja Wisata Yang Ada Di Loksado

Apa Saja Wisata Yang Ada Di Loksado

Loksado adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai SelatanKalimantan SelatanIndonesia. Loksado terletak dipegunungan Meratus merupakan salah satu daerah wisata alam dan atraksi budaya masyarakat Dayak Bukit.

1. Air Terjun Haratai


Air Terjun Haratai bertingkat tiga dengan ketinggian masing-masing kurang lebih 13 meter.  Dibawahnya terdapat telaga yang dapat digunakan untuk mandi atau sekedar berendam.  Air terjun ini berada di deretan Pegunungan Meratus, di kawasan wisata Loksado.
Di kawasan ini juga terdapat dua air terjun lagi, yaitu Air Terjun Riam Anai yang berketinggian 4 m dengan jarak ± 2 km dari desa Malaris dan Air Terjun Kilat Api yang terletak di Desa Tanuhi 4 km dari penginapan/cottage Tanuhi. 

Fasilitas dan Akomodasi
Tersedia gazebo untuk beristirahat sambil menikmati suasana, juga tempat ganti pakaian.Banyak terdapat penginapan di sekitar Loksado, selain Cottage Tanuhi juga ada Wisma Loksado, Wisma Amandit di Muara Hatip serta Balai Malaris di desa Malaris. Tarif kamar sangat beragam, mulai dari puluhan hingga ratusan ribu.

2. Air Terjun Riam Hanai


Hulu Sungai Selatan adalah sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Kalimantan Selatan. Kabupaten Hulu Sungai Selatan atau yang biasa disingkat dengan kabupaten HSS,memiliki salah satu daerah atau kecamatan yang sangat terkenal di Kalimantan atau bahkan Nasional yaitu daerah Loksado.Episode tentang Loksado sendiri sudah sering di tayangkan oleh beberapa stasiun TV swasta.Sehingga objek wisata di Loksado sekarang sudah sangat ramai baik itu tempat wisata alam yang sudah lama maupun tempat wisata baru , adapun salah satu tempat wisata yang sebenarnya sudah lama namun kini menjadi ramah kembali adalah objek wisata riam hanai.

Sebuah objek wisata yang memiliki sebuah air terjun dan riam atau kolam dibawahnya ini kembali ramai.Tempat yang sangat asri apabila anda berkunjung ke kabupaten hulu Sungai Selatan khususnya daerah Loksado.

Tempat yang sangat rindang dan dikelilingi hutan tropis menjadikan tempat ini sangat sejuk dan nyaman untuk dikunjungi,apabila anda kesini jangan lupa untuk bersantai diatas bebatuan tapi hati-hati apabila ingin menyeberangi sungainya atau jika tidak berani untuk menyeberangi sungainya alangkah baiknya jika anda tidak usah ke batu-batu ditengah sungai.meski tidak terlalu dalam sungainya tapi arus sungai bisa membuat anda terseret arus.

3. Air Terjun Kilat Api


Air terjun Rampah Menjangan adalah salah satu air terjun dari banyak air terjun yang ada di Kalimantan Selatan. Lokasi air terjun ini berada di Desa Loapanggang, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Nama Rampah Menjangan menjadi popular setelah menjadi bahan liputan pada salah satu program travelling ternama disalah satu stasiun televisi swasta, “My Trip My Adventure”. Ya program yang dipandu oleh Deni Sumargo dan Dion Wiyoko ini memang program yang selau menjadi referensi para traveller sejati maupun amatiran untuk meng-explore tempat-tempat dengan view yang terbaik. Nah ditulisan kali ini, aku bakal certain bagaimana rute yang harus ditempuh agar dapat menikmati air terjun Rampah Menjangan ini.

Lokasinya yang cukup jauh dari ibu kota, membuat para traveller harus melakukan beberapa persiapan. Yang pertama tentunya fisik dan mental, kenapa? Karena rute yang akan ditempuh bukan saja jauh, tapi juga medan yang dilalui cukup sulit, maka perlu adanya niat dan tekad yang kuat untuk dapat mencapai tujuan. lalu kedua yang harus dipersiapkan adalah dana, yak karena lokasi yang jauh dari pusat kota, maka perlu transportasi dan tentunya perlu dana untuk biaya retribusi masuk kedalam obyek wisata Loksado. Yang ketiga yang harus disiapkan adalah bekal, terutama bekal makanan dan bekal pakaian ganti. Ya mengingat lokasi yang dituju adalah air, demi menghindari dari masuk angin, bawa aja baju ganti ya. Dan bawa bekal makan, yakin jalan jauh bikin kalian laper sampai puncak jangan sampai makan temen, bahaya. Keempat yang penting adalah obat-obatan pribadi, ini penting bagi yang sok kuat padahal rapuh, ya terkadang karena memiliki tekad yang kuat ada yang lupa bahwa memiliki penyakit bawaan akut, seperti penyakit kejang-kejang dadakan karena ingat mantan misalnya (ini ngaco, maaf).

Nah, setelah semua persiapan oke. Maka kita mulai perjalanan kita. Dari ibu kota, Banjarmasin menuju Kandangan (Ibukota Kabupaten HSS) diperlukan waktu tempuh sekitar 3 jam dengan menggunakan sepeda motor. Lalu dari Kandangan perlu waktu sekitar 1 jam untuk sampai di kawasan wisata Loksado. Udah? Belum, kita baru sampai di kawasan wisata, o ya sekedar informasi sebenarnya wilayah Loksado lebih terkenal dengan wisata Kolam Pemandian air panas Tanuhi dan wisata air Bamboo Raftingnya, lalu baru-baru ini nge-hits dengan lokasi bukit Langgara dan air terjun Rampah Menjangan. Nah dari gerbang wisata Loksado ada biaya retribusi sekitar 6 ribu untuk 1 orang atau 10 ribu untuk 1 buah sepeda motor (bisa nego), dan kita perlu waktu sekitar 30 menit untuk sampai di kaki gunung menuju air terjun. Di sana kita akan menemukan Balai Adat malaris, kalian bisa istirahat sebentar disitu. O ya dari tempat ini kalian udah ngerasa beda banget deh suasananya, soalnya balai adat ini berseberangan langsung dengan aliran utama Sungai Amandit, yeah pastinya yang ada dibenak kalian adalah pengen ‘nyicipin’ air sungai yang dinginya menyejukan sampai ke relung hati yang paling dalam (ini melankolis, maaf).

Oke, setelah istirahat sejenak di balai adat, kalian bisa sedikit melanjutkan perjalanan menuju perkampungan, nah tips untuk yang memang baru pertama kali masuk kawasan ini, lebih baik kalian gunakan Jasa Tour Guide, mereka adalah penduduk asli desa Loapanggang. Dengan biaya sekitar 150.000 (bisa nego) kalian akan langsung diantarkan secara khususon ke air terjun, dijamin ga bakal nyasar dengan rute terdekat (katanya). Oke, kebetulan aku dan rombongan dianter sama Paman Zainal, karena terlalu hiperaktif menikmati suasana, jadi lupa minta contact person beliau. Eh tapi tenang aja, kalau sudah sampai desa Loapanggang, paman zainal ataupun rekan paman zainal siap sedia mengantarkan traveller untuk mencapai tujuan.

Yak, pertemuan dengan paman zainal mengantarkan aku sama rombongan selama 10 menit menuju aliran kecil dari sumber air pegunungan (titik awal tracking), yang katanya nih katanya paman zainal air pegunungan ini berasal dari pegunungan Meratus. Nah, sampai sini sepeda motor harus ditinggal, ya karna memang sangat tidak mungkin traveller naik sepeda motor kepuncakkan. O ya, dari Balai Adat Malaris jalur yang bisa ditempuh untuk menuju titik lokasi ini hanya menggunakan sepeda motor, bisa jalan kaki tapi lumayan jauh. Harus berhati-hati melewati jalur ini, karena memang jalan yang sempit dengan medan curam dimana salah satun sisi dibatasi oleh tebing dan salah satu sisi lainnya dihadapkan dengan jurang. Bukan cuma itu, traveller juga harus melewati kurang lebih 5 buah jembatan kayu yang lebarnya kira-kira 0,5 meter tanpa sekat pengaman dikedua sisinya dan mengalir dibawahnya aliran arus ungai yang cukup deras, wuuu. Selain itu tanjakan di jalur ini cukup bikin degupan jantung ga jauh beda kaya ketemu mantan yang ngucapin putus lewat BBM (ini berlebihan, maaf). Pokoknya traveller harus berhati-hati dalam mengendarai sepeda motor pada jalur ini.

Nah, tracking kita mulai ya. Perlu waktu sekitar 3 jam (dalam parameter santai) untuk sampai melihat air terjun impian. Waktu yang tidak sebentar untuk medan yang cukup rumit. Ya, aku sempet ngitung bahwa traveller harus melalui kurang lebih 11 anak sungai dengan aliran air mulai dari ringan hingga deras, dengan kedalaman sematakaki hingga selutut. Dan tentu saja, belum ketemu air terjunnya sudah dipastikan kalian akan basah sebelum waktunya. Bukan Cuma banyaknya aliran anak sungai yang harus dilewati tapi juga tanjakan dan juga turunan yang cukup tajam yang harus dihadapi, dengan menerapkan ilmu fisika yang aku punya, bisa diperkirakan kemiringan lereng yang harus ditempuh sekitar 45 derajat dan ini cukup ekstrim bagi traveller yang tidak biasa menjelajah. Medan yang ditempuh bukan hanya tanah lempung atau berpasir saja, karena memang masih sebagai hutan asri akar-akar pohon besar dan batuan gunung menjadi pijakan jalur yang harus dilalui.

Tapi, semua rintangan yang dilalui, susahnya mendaki sampai merayap rayap, gemeterannya badan karena berhadapan dengan tebing-tebing dan lain sebagianya akan terbayar ketika hembusan sejuk air saat berhadapan langsung dengan air terjun ini, rasanya bener-bener kebayar, air terjun yang merupakan air terjun dengan tinggi sekitar 25 meter ini bener-bener bikin seneng hati kaya abis diajak mantan tersayang makan soto banjar bareng, gurih-gurih adeeem (ini berlebihan juga, maaf).  Oke, tentunya abadikan semuanya dengan kamera yaa dan jangan lupa harus mandi basah pokoknya kalau udah sampe puncak tapi ga basah, rugi banget.

5. Air Terjun Rampah Lambin


Konon, katanya dulu di pedalaman di daerah Loksado Hulu Sungai Selatan beberapa orang masyarakat Dayak Meratus setempat melakukan rutinitasnya yaitu berburu. Singkat cerita saat menembus hutan lebat, sungai dan melewati lereng-lereng bukit akhirnya perburuan pun sedikit membuahkan hasil, seekor menjang
 
an (bahasa setempat : payau) berhasil dikepung dengan bantuan beberapa ekor anjing kesayangannya yang memang sudah terlatih dan handal dalam urusan berburu. Setelah kejar-kejaran dengan beberapa anjing tadi sa
ng menjangan bernasib sial, ia pun kalah terkepung oleh lincahnya oleh sekelompok anjing itu, sehingga ia dapat dilumpuhkan dengan beberapa gigitan oleh anjing-anjing tsb. Sang menjangan pun terluka, ia mulai lemah karena mulai kehabisan darah oleh gigitan anjing. Namun, apa yang terjadi? Ketika si pemburu mau menangkapnya diluar dugaan ternyata menjangan masih mampu berlari menghindar dari pemburu sampai terjadi kejar-kejaran lagi. Sayang sekali, sang pemburu kehilangan jejak si menjangan.

Karena sudah lelah mencari-cari, pemburu pun mulai putus asa dan akhirnya dengan terpaksa ia memutuskan untuk pulang dengan tangan kosong. Pada saat perjalanan menuju pulang saat menyebrangi sungai, para pemburu melihat warna air sungai sedikit berwarna kemerahan. Dengan keyakinan tinggi bahwa air yg merah tsb adalah darah menjangan yang tadi mereka kejar para pemburu pun langsung menyusur hulu sungai dengan harapan dapat menemukan menjangan tadi. Beberapa saat menyusur sungai tanpa disengaja, para pemburu mendengar bunyi gemuruh air yang deras dan semakin mendekat dengan bunyi gemuruh tsb. Sesaat mereka takjub, jelas saja ternyata didepan mata nampak sebuah air terjun yang indah sekali. Dan indah nya lagi, disamping air terjun tersebut terdapat seekor menjangan yang penuh luka ditubuhnya tebujur kaku karena terjatuh dari tebing disisi air terjun yang tinggi. Itulah menjangan yang dicari-cari. Alhasil para pemburu pun bisa tersenyum manis karena berhasil membawa pulang seekor menjangan. Dan dari kejadian itu air terjun tsb mereka beri nama Rampah Menjangan hingga terkenal dimasyarakat luas sampai saat ini. (Bahasa setempat "Rampah = air terjun").

Rampah Menjangan terletak di kawasan pegunungan Meratus, tepatnya di desa Loa Panggang kecamatan Loksado kabupaten Hulu Sungai Selatan - Kalimantan Selatan. Salah satu kecamatan yang paling banyak memiliki tempat-tempat indah sehingga mejadikan Loksado sebagai ujung tombak pariwisata Hulu Sungai Selatan. Tak hanya bamboo rafting, beberapa buah air terjun di daerah Loksado memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Air terjun dengan ketinggian kurang lebih 30 meter ini memang terletak didalam hutan, sehingga sedikit dibutuhkan tenaga ekstra untuk mencapainya. Dengan trekking melewati hutan tropis Meratus memberikan kesan tersendiri saat melewatinya, banyak flora maupun fauna khas Kalimantan didalamnya.

Pertengahan 2014 lalu saya berdua dengan teman saya mengunjungi air terjun ini. Bukan waktu yang pas sebenarnya, karena debit air yang cenderung sedikit pada saat musim kemarau. Karena masih belum banyak yang tahu tempat ini, mengharuskan kami banyak nanya sama penduduk setempat. “Malu bertanya sesat dijalan, banyak bertanya itu memalukan”..ehhhh...Setidaknya itulah modal kami berdua untuk mencapai air terjun ini disamping stamina yang fit.

Menurut warga setempat ada beberapa jalur yang dapat ditempuh menuju air terjun ini. Katanya ada yang menyusur sungai, lewat jalur itu sebelum mencapai air terjun Rampah Menjangan akan menjumpai beberapa air terjun seperti air terjun Lambin dan air terjun Jelatang.Namun untuk medan itu katanya sangat curam, selain itu butuh waktu yang lebih lama dari jalur yang akan saya tempuh. Jalur bukit Puawan, itulah jalur yang saya pilih. Dibutuhkan waktu kurang lebih 1 jam 45 menit dengan melalui areal persawahan masyarakat setempat dan selanjutnya mendaki bukit Puawan. Bukit kecil ini lumayan menyesakkan dada lho, bikin ngos-ngosan cuy...hehehe. Namun uniknya di bukit ini didominasi oleh pohon Kayu Manis, yang kulit kayunya diambil oleh masyarakat setempat sebagai rempah-rempah makanan yang juga disebut kayu manis. Tak heran kalau Loksado adalah penghasil kayu manis terbesar di Kalimantan Selatan. Menjadikan trekking disini hawanya sangat sejuk karena rindangnya pepohonan kayu Manis.

Itulah tadi beberapa obyek wisata yang terdapat di Loksado, yang sebenarnya masih banyak lagi yang belum saya bagikan ke kalian semua, tapi insyallah nanti saya akan share kembali wisata yang belum ter update, Dan semoga info ini bermanfaat buat kalian yang mau liburan ataupun mau mencari tempat suasana baru. Sampai jumpa.

0 Comment: